Dear Nobody™,
Katanya, hidup enggan matipun tak sudi. Mungkin itu yang kurasakan saat ini, aku tidak siap dengan siksaan yang lebih menyakitkan dari kesengsaraan di dunia mimpi ini, aku ingin bangun dengan senyuman, kelegaan, dan kebahagiaan.
Aku ingin tertawa lepas sambil berlari larian, hembusan angin kencang membuat rambutku berterbangan. Bebas.
Percayalah, sebenarnya hidupku tidak begitu menyakitkan itu. Aku hanya terlalu banyak berfikir, dan sulit untuk menghentikannya. Semakin kupikirkan semakin takut aku, tapi terkadang ada saatnya aku masa bodo. Aku takut jika mereka mulai bosan dengan diriku yang tak berubah berubah. Tapi ya... Kadang aku juga bodo amat.
Selalu saja hal menyebalkan, memalukan, dan menyedihkan datang dan menghantui, padahal yang bersangkutan akan datang lalu pergi. Tapi pikiranku selalu tersangkut dengan hal hal itu. Kata maaf mungkin sudah terasa basi bagi mereka, lalu aku frustasi lagi. Memori saat aku menyampaikan maaf dengan caraku terputar kembali, dan selalu terngiang ngiang. Ekspresi dan respon mereka membuatku berhenti menggunakan metode bisu itu. Yah, aku memang tidak pernah minta maaf secara langsung, hanya... Dan selalu dengan ketikan.
Hufftt, tulisan ini sangat tidak teratur. Dan sekarang aku lupa apa lagi yang ingin aku tumpahkan.