Letter DN-VIwKVhox2iBk February 9, 2026

Dear H. E.,

Sanur, 9 Februari 2025.
Aku masih flu, dan kini menyebar ke tenggorokan jadi batuk-batuk kecil.

𝘔𝘦𝘯𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘦𝘩. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘯𝘪𝘢𝘵𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦 𝘭𝘢𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢.

Dan apabila surat ini berakhir pada jasa atau aplikasi alih bahasa, aku ingin memberitahumu bahkan ini pun tidak mudah bagiku. Aku sama tidak biasanya denganmu untuk urusan bahasa indonesia. Lahir dan besar di sini tidak membuatku familiar dengannya.

Dengan bahasa, aku jadi merasa lemah saja dan sejak belia, ibuku menuntunku untuk mencinta dengan bahasanya. Dia juga berkata kalau ini adalah metode baik untuk menganalisis rasa yang sedikitnya mengganggu dan menggelitik di dada.

Dua hal asing itu kupaksakan tergurat di sini; bahasa dan cinta. Bayangkan semarah apa aku denganmu jika sukses merampungkan tulisanku. Jadi, mari kita coba.

Aku marah. Marah. Alih-alih surat cinta, harusnya kukatakan ini surat marah saja. Terlihat sudah kutuliskan kata 'marah' sebanyak lima kali di surat ini ketimbang 'cinta' sebanyak empat kali. Namun mungkin ini sebagai pengingat bahwa mencintai seseorang akan datang bersamaan dengan hati yang menggebu. Marah 'kah itu?

Tidak tahu.

Mari kita susuri bersama. Beberapa hari lalu. Jadi menurutmu, aku tidak 'menarik'mu dengan upaya yang sama. Tepat setelah aku mulai sadar bahwa fakta aku pernah melukaimu di hari-hari saat kita bersama saja membuatku panik setengah mati. Jadi saat mendengar bahwa kamu kecewa dan realitanya, realitaku melenceng dari harapanmu, aku jadi seperti tertiban beban tepat di tempurung kepalaku. Ternyata .... aku benar melukaimu, ya?

Lalu aku berpikir; apa memang harus setakut ini untuk melukai seseorang? Sejak kapan aku peduli untuk tidak melukaimu?

Malam tadi aku banyak mengandai dan kebetulan flu mencegahku untuk terlelap. Aku bertanya apakah hal yang sama juga terjadi padamu entah di mana.

𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘧𝘭𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧.

Aku membaca novel pertamaku pada saat aku duduk di bangku sekolah dasar, tahun kelima. Tidak yakin juga buku itu ramah anak, namun tetap kubaca juga. Kamu mungkin akan tertawa saat tahu buku apa yang kumaksud. Salahkan siapapun yang menaruhnya di perpustakaan. Itu menghabiskan waktu istirahatku selama satu semester, serta beberapa alasan pulang terlambat karena belajar di perpustakaan. Satu semester. Kurva indeks nilaiku saja merosot karena buku dekil itu.

Buku tebal dan berisikan drama pelik tentang cinta yang seolah rapuh apabila disandingkan dengan waktu. Aku teringat alih-alih ingin jatuh cinta, aku malah jadi sesak karenanya. Namun bisa dikatakan akhirnya baik dan indah. Banyak yang klise, namun tetap saja cukup untuk membuatku terpana. Dan buku itu menjadi fase 'barbie'-ku. Anak-anak lain membicarakan ikon perempuan berambut pirang, sedangkan aku sibuk berandai jadi Kugy berkacamata.

Kugy si Penulis yang hidupnya bebas. Aku iri besar padanya.

𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘤𝘢, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘱𝘪𝘯𝘫𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘤𝘦𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘨𝘢𝘮 𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪.

Jadi, sampai mana tadi? Oh, marah.

Lalu semalam, rasa bersalahku menjelma jadi marah terhitung hingga saat ini. Entah bagian semesta mana yang bisa kusasar sebagai pusat kemarahanku karena membuat upayaku gagal menyentuhmu dengan cukup. Aku merasa dikhianati oleh fakta bahwa selama ini aku sudah merasa tenggelam, sedangkan yang kuarungi hanya sedangkalnya lautan.

Lalu bagaimana jika mencintaimu dengan dangkal itu memang tidak cukup?

El, aku takut tenggelam, sungguh.
Tenggelam sendiri jauh lebih buruk.

Klise, namun kebetulan, hari ini aku akan mulai belajar menyelam (secara harfiah). Bersamaan dengan kuakhiri penaku yang menggurat kata di kertas, kuputuskan untuk tidak peduli denganmu lagi. Aku masih marah padamu karena membuatku tenggelam pada perasaanku sendiri malam tadi. Bermuara pada satu kesimpulan bahwa aku mencintaimu dalam meski kamu katakan itu tidak sedalam milikmu. Tidak apa-apa. Maka dari itu kutuliskan, aku tidak peduli denganmu lagi.

Maka tenggelam saja masing-masing, aku juga tidak peduli.

𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘵𝘪𝘬𝘦𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘬𝘢𝘭𝘪𝘴𝘢𝘴𝘪 𝘯𝘰𝘷𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘭𝘪𝘩-𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘵, 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘬𝘶. 𝘔𝘢𝘳𝘪, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘶𝘴𝘵𝘢𝘩𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢.